Berita Industri
Merek Bulu Mata Palsu Memasuki Pasar Kecantikan Mungil di Asia Tenggara
- 615 Tampilan
- 2025-11-14 01:41:51
Merek Bulu Mata Palsu Memasuki Pasar Kecantikan Mungil di Asia Tenggara
Industri kecantikan di Asia Tenggara sedang mengalami ledakan yang luar biasa, didorong oleh populasi muda yang paham digital dan meningkatnya pendapatan yang dapat dibelanjakan. Menurut Statista, pasar kosmetik di kawasan ini diproyeksikan mencapai $53,2 miliar pada tahun 2025, dengan pertumbuhan terbesar di bidang perawatan kulit dan tata rias. Dalam lonjakan ini, bulu mata palsu telah muncul sebagai kategori yang menonjol, dengan permintaan yang meningkat di kalangan generasi Z dan konsumen milenial—khususnya di “pasar kecantikan mungil”: segmen yang lebih kecil dan kurang terlayani seperti kota-kota lapis kedua, butik kecantikan lokal, dan komunitas online khusus yang belum sepenuhnya ditembus oleh merek-merek global besar.
Meningkatnya Permintaan Bulu Mata Palsu di Asia Tenggara
Konsumen di Asia Tenggara mendefinisikan ulang norma-norma kecantikan, memprioritaskan keserbagunaan dan kemudahan penggunaan sehari-hari dibandingkan gaya yang terlalu dramatis. Berbeda dengan pasar di negara-negara Barat, dimana bulu mata yang tebal dan tebal mendominasi karpet merah dan acara-acara khusus, preferensi masyarakat lokal cenderung ke arah “peningkatan tampilan alami.” Survei pada tahun 2023 yang dilakukan oleh retailer kecantikan Sociolla menemukan bahwa 68% pembeli di Indonesia dan Malaysia mencari bulu mata palsu yang berlabel “ringan”, “sehari-hari”, atau “alami”, dengan sebagian besar pembeli bersedia mengeluarkan $5–$15 per pasang—menyeimbangkan kualitas dan keterjangkauan.

Media sosial mendorong permintaan ini. Platform seperti TikTok dan Instagram, tempat kecantikan menghasilkan miliaran penayangan setiap bulannya, telah mengubah tutorial bulu mata menjadi tren viral. Influencer Thailand seperti @beautybynana, misalnya, menampilkan “rutinitas bulu mata alami selama 5 menit” yang disukai pelajar dan pekerja kantoran, sehingga mendorong penelusuran untuk “bulu mata palsu harian” naik 120% dari tahun ke tahun di Thailand, menurut Google Trends.
Mengapa Pasar Kecantikan Mungil Penting

Meskipun raksasa global seperti KISS dan Ardell fokus pada pusat metropolitan dan platform e-commerce besar (misalnya, Lazada, bagian premium dari Shopee), pasar yang lebih kecil masih belum tergarap. Ini termasuk kota-kota tingkat 2 (misalnya, Surabaya di Indonesia, Cebu di Filipina), kedai kecantikan di lingkungan sekitar, dan komunitas yang didorong oleh mikro-influencer. Di sini, konsumen sering kali memprioritaskan uji coba langsung, memercayai rekomendasi lokal, dan lebih memilih merek yang “terasa cocok”—kesenjangan yang sulit dipenuhi oleh merek besar karena biaya logistik yang tinggi dan lini produk yang terstandarisasi.
Misalnya, di pinggiran Kota Ho Chi Minh di Vietnam, toko kecantikan lokal melaporkan bahwa 70% penjualan bulu mata palsu berasal dari “penjual komunitas”—yaitu individu yang membuat produk untuk teman dan tetangga melalui grup WhatsApp. Penjual-penjual ini memprioritaskan pengisian ulang yang cepat, harga yang fleksibel, dan desain yang “hiper-lokal” (misalnya, ukuran yang lebih pendek untuk bentuk mata orang Vietnam), sehingga menciptakan peluang bagi merek-merek tangkas untuk bermitra secara langsung.
Strategi agar Merek Sukses
Untuk berkembang di segmen ini, merek bulu mata palsu harus mengadopsi strategi lokal dan berpusat pada konsumen:
1. Desain untuk Preferensi Lokal
Konsumen di Asia Tenggara menghargai keragaman bentuk mata—dari monolid (umumnya di Indonesia) hingga berbentuk almond (umumnya di Thailand). Merek harus menawarkan tali bulu mata yang dapat disesuaikan dan panjang yang bervariasi (8–12mm untuk pemakaian sehari-hari, 14–16mm untuk acara-acara). Serat sintetis yang ringan dari segi bahan atau alternatif bulu cerpelai yang bebas dari kekejaman bekerja paling baik di iklim lembab, menghindari pilihan yang berat dan rawan keringat.
2. Bermitra dengan Pemain Mikro
Berkolaborasi dengan distributor lokal, platform e-commerce komunitas (misalnya Bukalap di Indonesia, Carousell di Malaysia), dan mikro-influencer (10 ribu – 100 ribu pengikut) membangun kepercayaan. Misalnya, merek bulu mata yang berbasis di Filipina baru-baru ini bermitra dengan 50+ “duta kampus” untuk mengadakan pop-up di asrama, sehingga meningkatkan penjualan sebesar 300% dalam tiga bulan melalui model uji coba dan pembelian.
3. Bersandar pada Pemasaran Niche Digital
Kampanye TikTok dan Instagram Reels yang menyoroti “lash hacks for school” atau “gaya yang sesuai untuk kantor” disukai oleh audiens muda. Kontes yang dibuat oleh pengguna (UGC)—di mana pelanggan berbagi foto MyEverydayLash—mendorong keterlibatan dan keaslian, hal ini sangat penting di pasar di mana tinjauan sejawat lebih penting daripada iklan tradisional.
Tantangan dan peluang
Memasuki pasar kecil memerlukan ketangkasan: menavigasi logistik yang terfragmentasi (misalnya, keterlambatan pengiriman di pedesaan di Thailand), mematuhi peraturan setempat (misalnya, sertifikasi produk BPOM di Indonesia), dan beradaptasi dengan nuansa budaya (misalnya, wilayah mayoritas Muslim lebih memilih perekat bersertifikat halal). Namun, manfaatnya sangat besar: segmen ini memiliki tingkat pembelian berulang yang lebih tinggi (65% vs. 40% di wilayah metro) dan biaya akuisisi pelanggan yang lebih rendah.
Ketika konsumen kecantikan di Asia Tenggara terus mencari produk yang dipersonalisasi dan mudah diakses, merek bulu mata palsu yang memprioritaskan lokalisasi dan koneksi komunitas akan membuka potensi penuh dari pasar-pasar kecil yang sedang berkembang ini.
