Berita Industri
Merek Kecantikan Memadukan Bulu Mata dengan Eyeliner untuk Penampilan Terkoordinasi
- 74 Tampilan
- 2025-11-20 02:41:06
Merek Kecantikan Menggabungkan Bulu Mata dengan Eyeliner: Bangkitnya Peralatan Rias Mata Terkoordinasi
Di dunia kecantikan yang serba cepat, merek semakin beralih ke inovasi yang memadukan kenyamanan dengan presisi—dan ada satu tren yang menonjol: menggabungkan bulu mata palsu dengan eyeliner. Pasangan strategis ini bukan sekadar gimmick pemasaran; ini merupakan respons terhadap perubahan permintaan konsumen akan solusi riasan mata yang kohesif dan menghemat waktu. Saat pembeli mencari rutinitas yang efisien dan penampilan yang Instagramable, merek kecantikan memikirkan kembali bagaimana bulu mata dan liner bekerja sama, menciptakan paket yang menjanjikan tidak hanya produk, namun juga pengalaman riasan mata yang lengkap.
Pergeseran Berbasis Konsumen: Kenyamanan Bertemu Koordinasi

Pasca pandemi, dunia kecantikan mengalami lonjakan jumlah “profesional di rumah”—konsumen yang menginginkan hasil berkualitas salon tanpa repot. Untuk riasan mata, ini berarti menghilangkan dugaan mencocokkan bulu mata dengan liner. Survei yang dilakukan Mintel pada tahun 2023 menemukan bahwa 68% pembeli produk kecantikan memprioritaskan “produk yang dapat dipadukan dengan baik” untuk menghindari kesalahan tata rias, sementara 54% menginginkan “rutinitas yang menghemat waktu”. Bundling menyelesaikan keduanya: alih-alih memilih gaya bulu mata, lalu mencari warna atau formula liner pelengkap, pembeli mendapatkan rangkaian pilihan yang dirancang untuk harmoni.
Media sosial telah memperkuat permintaan ini. Platform seperti TikTok dan Instagram dibanjiri dengan CoordinatedEyes, tempat para pembuat konten menunjukkan bagaimana satu paket lash-liner dapat mengubah tampilan dari “sehari-hari” menjadi “lebih baik.” Video-video ini sering kali menyoroti rasa frustrasi karena produk yang tidak serasi—misalnya bulu mata dramatis yang dipadukan dengan liner tipis dan halus, atau bulu mata alami yang hilang karena formula yang tebal dan luntur. Merek condong ke titik kesulitan ini, memposisikan paket sebagai solusi yang “sangat mudah” baik untuk pemula maupun profesional.
Merancang untuk Sinergi: Tempat Lash Tech Bertemu dengan Inovasi Liner

Keajaiban bundel ini terletak pada desain yang disengaja. Ini bukan hanya tentang memasukkan dua produk ke dalam satu kotak; ini tentang merekayasa mereka untuk bekerja bersama-sama. Ambil bentuk bulu mata: Bulu mata yang tipis dan alami (bayangkan “Wispies” dari Ardell) berpadu sempurna dengan lapisan gel berwarna coklat yang lembut, meniru tampilan bulu mata yang menebal secara alami. Untuk efek yang lebih dramatis, merek seperti Huda Beauty memadukan bulu mata “Bombshell” mereka—yang tebal dan panjang—dengan liner cair berwarna hitam legam yang tahan air, memastikan presisi liner tidak dibayangi oleh bulu mata yang tebal.
Ilmu material juga berperan. Serat bulu mata yang ringan (seperti bulu sintetis atau sutra) membutuhkan lapisan yang tidak membebani mata atau menyebabkan pengelupasan. Merek seperti Lancôme mengatasi hal ini dengan memasangkan Idôle Lashes mereka (dengan tali ultra tipis dan fleksibel) dengan liner felt-tip yang cepat kering dan anti noda—sikat halusnya memungkinkan pengguna menelusuri garis bulu mata dengan tepat, mengunci tali bulu mata di tempatnya tanpa menggumpal.
Bahkan koordinasi warna pun disengaja. Bulu mata berwarna hangat (misalnya kastanye atau kuning) sering kali dilengkapi dengan pelapis terakota atau tembaga untuk efek seperti sinar matahari, sedangkan bulu mata dengan warna sejuk (hitam atau arang) dipadukan dengan pelapis warna plum dalam atau biru tua untuk menambah dimensi. Perhatian terhadap detail ini mengubah bungkusan sederhana menjadi “tampilan di dalam kotak”.
Strategi Merek: Dari Niche ke Mainstream
Pemain mapan dan merek indie sama-sama mengikuti tren ini. Merek bulu mata lama Ardell meluncurkan paket “Esensial Sehari-hari” tahun lalu, memadukan Demi Wispies terlarisnya dengan liner felt-tip yang ramah toko obat—dengan harga $12, produk ini menargetkan pembeli yang memiliki anggaran terbatas. Label mewah seperti Charlotte Tilbury mengambil pendekatan premium: “Pillow Talk Lash & Liner Duo” memadukan bulu mata berkibar yang ikonik dengan liner berwarna krem yang tahan lama, dipasarkan sebagai “rahasia karpet merah” seharga $45.
Merek DTC yang sedang berkembang menggandakan penyesuaian. Merek seperti Lashify menawarkan “Lash + Liner Kits” di mana pengguna memilih panjang bulu mata (natural, medium, dramatis) dan hasil akhir liner (matte, glossy, glitter), dengan alat AI yang menyarankan pemasangan berdasarkan bentuk mata. Hiper-personalisasi ini selaras dengan Gen Z, yang menghargai produk yang terasa “dibuat untuk mereka”.
Masa Depan: Melampaui Kumpulan
Tren ini bukan hanya tentang menjual dua produk—tren ini membentuk kembali cara berpikir merek tentang “sistem kecantikan yang lengkap”. Orang dalam industri memperkirakan kita akan melihat lebih banyak inovasi, mulai dari “paket pintar” dengan kode QR yang terhubung ke video tutorial, hingga perangkat ramah lingkungan dengan kemasan yang dapat didaur ulang dan pelapis yang dapat diisi ulang. Bagi produsen, ini merupakan panggilan untuk berkolaborasi: desainer bulu mata bekerja sama dengan para ahli formulasi untuk memastikan setiap komponen ditingkatkan
